Kapitalis Bertopeng

“Lama-lama saya berpikir, I wish saya dapat menurunkan harga..” (Mari Elka Pangsetu, Menteri Perdagangan)

Ya, anda bisa, Bu. Masalahnya, adalah anda, dan bos anda dibelakang, tak mau. Tak mau berpikir panjang, bahwa masih ada sumber daya kita yang bisa dipakai untuk mensejahterakan rakyat, malah anda dan bos anda lebih memilih menyewakan tambang emas dengan harga yang jauh dibanding keuntungan yang penyewa itu dapatkan. Bukankah New York dibangun dari Freeport?

Dengan angkuhnya, anda dan teman-teman anda, mengumumkan kenaikan BBM, yang membuat harga-harga malah naik duluan sebelum malam sial itu. Membuat tarif angkutan naik hingga 50%, hingga saya harus membayar hampir dua kali lipat dari biasanya. Membuat beban hidup kami semakin menghimpit, hingga banyak yang menjadi gila. Dan anda, tentunya bos anda juga, memberikan kompensasi bagi sebagian dari kami, yang anda bilang cukup untuk mengimbangi kenaikan harga. Coba kita balik, bagaimana kalau anda meninggalkan rumah mewah anda, mobil keluaran terbaru yang anda koleksi di garasi, dan menjelma menjadi sebagian dari kami. Terimalah dana BLT, dan rasakan hidup dengan seadanya, dan kami yakin, anda juga bisa gila karena tekanan itu.

Anda dan Bos anda, menjadi boneka kapitalis. Boneka yang bisa digerakkan untuk kepentingan kapitalis. Atau malah anda dan bos anda telah ikut menjelma menjadi kapitalis bertopeng pemerintah?

Polisi Masuk Kampus : The Story of Cop VS Student

is this a our cop? is this our student?

Selama ini, ada semacam :peraturan tak tertulis”, yang menyebutkan polisi dilarang masuk kampus. Don’t know why, namun selama saya kuliah, jarang sekali saya lihat polisi masuk kampus (dalam artian, memakai pakaian dinas), kecuali dalam hal tertentu misalnya tawuran mahasiswa (yeah, unhas memang terkenal dengan tawurannya yang melegenda ;p).

Belakangan ini, dengan adanya demo kenaikan BBM yang marak di berbagai kampus, -yang sayangnya-, kadang berlangsung anarkis, membuat aturan tak tertulis tersebut, menjadi tidak berlaku. Polisi masuk kampus, mengejar mahasiswa, hingga yang paling parah, menjadi perusak kampus.

Kenaikan BBM juga menjadi hal yang tidak saya inginkan, (pemerintah tampaknya terlalu underpressured dengan kenaikan BBM dunia yang selama ini terkatrol dengan tameng kapitalisme), namun yang menyesalkan, kadang malah menjengkelkan, adalah demo mahasiswa. Bakar ban, menutup jalan (hey, tuh jalan punya nenek moyangmu, po??), melempari polisi –mungkin mereka pikir polisi cuma boneka-, dan tindakan lainnya, yang alih-alih membuat empati pada perjuangan mereka, malah membuat jengkel! Segala aktivitas terganggu, kepentingan umum pun terhambat.

Tindakan represif polisi, juga patut disayangkan. Mungkin mereka menganggap segala jenis demonstrasi adalah tindakan yang dapat membahayakan negara, -mungkin pemimpinnya juga ;p-. hingga akhirnya tindakan penyerbuan ke kampus, menjadi hal yang memalukan. Namun, menurutku, wajar. Toh, polisi juga manusia, mereka juga dapat meradang ketika diejek, diserang, atau malah dilempari. Yang menjadi tidak wajar, adalah mereka –belum bisa mengendalikan emosi. Mahasiswa juga, civitas akademika yang seharusnya terhormat, malah lebih parah. Lempar batu, menganggu kepentingan umum, apa mereka tidak berpikir? Apa yang mereka pelajari di kampus??

Toh, pada intinya, kesalahan ada pada system dan diri kita. Kapitalisme yang memaksa pemerintah tak berpikir panjang menaikkan harga BBM, dan diri kita yang masih menganggap superior dibanding orang lain. Mahasiswa dan polisi, damailah! Dan kapitalisme telah mati sebelum ia ada!

Hurt Me

within all these lies, all i really want is out!
..tolong..

Tembakan Massal

Bercampur aduk rasanya jadi koass. Ada perasaan bangga, excited, capek, sampai muak!

Hari ini, di bagian Interna semua koass ditembak 1 minggu. And that's mean, semua koass di-tuming-kan. Damn, secara juga sy ndak tau aturan klo koass wajib datang even di pembacaan residen. Dengan lugunya, kami bergerombolan datang ke UPF untuk melihat keadaan, kemudian muncullah bencana itu.

Sang-supervisor-si-guru-besar-yang-tidak-penting-untuk-disebutkan-namanya membom kami semua koass-lucu-nan-lugu dengan bom tuming. Alasannya, tidak datang pembacaan.

Muak! Mana sy masih minggu I, jadi klo dituming jadi minggu 0 dunk. Wekz, jaga gratis nih.

Yaa, mau diapa lagi, kami -koass- cuma sekumpulan orang yang serba salah. Kami -koass- adalah strata terendah di rumah sakit. Ya, kami -koass- adalah Kumpulan OrAng Serba Salah.

Dan terima kasih atas tembakannya, dok!

Ayat-ayat Cinta; The Movie

Hari ini saya menyaksikan cinta.
Entah cinta itu hanya berhias akting, toh saya [berusaha] merasakannya.
Sungguh, saya terkesan.
Mungkin sama terkesannya dengan orang-orang yang baru menyaksikan betapa Islam mengagungkan cinta.

Cinta, namun dalam perspektif yang berbeda.
Bukan cinta yang penuh dengan nafsu belaka.
Bukan pula cinta yang mendayu-dayu, yang senantiasa mereka tanamkan pada otakku lewat sinetron dan film bodoh itu.
Bukan pula cinta yang membuat Laila menjadi gila, hingga membuatnya jauh dari-Nya

*setelah menonton Ayat-ayat Cinta, yang paling membuatku terkesan [dan mungkin cuma ini saja] adalah scene Aisha yang mendorong Fahri untuk menikah dengan Maria. Namun, tetap digambarkan bahwa ”sisi kemanusiaan” Aisha yang menangis, tapi tetap berusaha niat ikhlas karena Allah.

Subhanallah,.. seandainya [dan saya yakin memang ada] ada wanita yang bisa seikhlas ini,..

*Fahri-wannabe mode-on. Hehe, siapa Aisha nya ya?

Kaburrr ;)

Tertinggal; Sebuah Memoar

Dear all, tujuan awal blog ini dibiarkan hidup, adalah untuk melatih kepekaan menulis (sekaligus ajang narsistik bagi tulisan-tulisan tidak bermutu—he;p). Tapi, seiring berjalannya waktu (waktu bisa jalan ya?), tulisan yang ada di blog ini semakin tidak menentu arahnya, entah ideologis atau sekedar buang-buang waktu untuk dibaca..

Seperti itulah hidup penulis sekarang, out of the box. Semakin tidak menentu arahnya. Diawali dengan kesibukan ini itu, hingga akhirnya sama sekali out of the community. Semakin keras usaha untuk mencoba kembali, semakin banyak rintangan.

Konsekuensinya, seakan-akan kembali ke masa-masa lalu. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada saya saja, teman-teman yang lain juga [mungkin] merasakan hal yang sama. Entah setannya yang cerdik menggoda, ataukah kami sudah menjadi komunitas setan-setan itu? Walaupun, kuantitas bukanlah menjadi alibi untuk melegalkan kondisi ini, tapi seakan-akan saya merasa aman, melihat orang lain mengalami hal yang sama. Bahwa, bukan hanya saya yang kini dalam kelemahan, tapi mereka juga!

Ya, sedari awal kami [komunitas orang setengah waras –dimata orang lain–] , sudah terjebak dengan strategi kuantitas. Kami selalu berpikir, yang penting ada! Bukan, kualitas, yang dengannya, walau seorang, tetap mengalahkan kuantitas beribu orang. Kami [atau mungkin saya] terlalu bersemangat bahwa, kami akan mengalami hal-hal yang akan membuat kami tersadar, dan kemudian bangun kembali menyebarkan virus-virus ideologis kami, dan seterusnya hingga semua orang berpikir seperti cara pikir kami. Dan parahnya, pemikiran kami tidak diisi penuh. Ibarat kendaraan, bensinnya sudah habis di tengah jalan. Inilah realitanya sekarang, kami seperti berhenti di tengah jalan. Sementara musuh-musuh kami semakin kuat, menyebarkan virus-virus ideologis mereka, yang akhirnya membuat orang kebanyakan berpikir seperti mereka.

Sungguh, saya iri melihat orang-orang yang tetap mampu bertahan. Mereka, yang ditengah kesibukan, tetap menyatu dalam shaf. Mereka, yang bahkan mengabdikan hidup mereka hanya untuk berada dalam shaf tersebut. Mereka, yang sedari awal sudah berkomitmen penuh dan terus melaksanakan komitemen itu dengan sepenuh hati. Dan, rasa malu yang menyeruak ketika kami bertemu. Saling menanyakan kabar, hingga menanyakan kondisi sekarang. Mulut ini rasanya terkunci, muka ini serasa ingin dibenamkan dalam-dalam, dulu kami yang seperjuangan, kini serasa berubah arah. Mereka yang tetap melaju, kami yang tertinggal di belakang.

*dedicated to them. Miss u brotha’!

DR. Mansyur Semma: In Memoriam


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Bapak DR. Mansyur Semma, telah berpulang ke Rahmatullah tadi subuh di RS Labuang Baji.
Dosen Komunikasi Unhas ini, merupakan sosok yang sangat sy kagumi. Beberapa seminar yang menghadirkan almarhum pernah sy hadiri, dan membuat saya terkagum-kagum pada beliau.
Gaya bicara dan analisisnya yang membuat saya cuma bisa mengangguk-angguk.
Dalam satu masiroh, beliau hadir, retorikanya benar2 membakar semangat.
Walaupun beliau menjadi buta akibat malpraktek, beliau tetap berkarya hingga akhirnya menyelesaikan gelar doktoralnya. Sungguh, semangat beliau tak pernah padam!

"Setidaknya saya bisa menunjukkan kepada diri saya, keluarga atau orang-orang, terutama kepada saudara-saudaraku yang buta bahwa menjadi buta bukanlah akhir segala-segalanya. Hidup tetap harus jalan,"
-DR. Mansyur Semma-

Panduan Koas Neuro

Hehe sudah kehabisan ide untuk menulis, jadi nulis panduan koas dulu ahh .. Semoga bermanfaat!

Koas neuro lama stasenya 4 minggu. Melapor ke UPF Neurologi hari Jumat setelah shalat Jumat. Klo beruntung (^^p) kmu akan ketemu dgn dr. Yunus. Bersiap-siaplah untuk berdiri! Kurang lebih 2 jam kita berdiri mendengarkan arahan dari beliau.. Capeekk

Hari Minggu, datang ke bangsal Lontara 3 RSWS untuk adaptasi. Klo beruntung kmu bisa belajar pemfis, ngetok2 orang, tes perspirasi, dsb. Klo lebih beruntung lagi, bisa pulang cepat..;p

Hari Senin, stase dimulai! Group mu akan dibagi 2 kelompok, satu ke RSWS, satunya lagi ke RSLB. Nah, di WS kamu akan dapat kamar utk difollow up. Begitu pula di LB, setelah follow up akan ada residen yang datang untuk visite. Wajibki ikut, untuk dpt ilmu plus tanda tangan di kartu kontrol hehe.. Klo kamu beruntung, bisa dapat poli, yang kerjanya gak berat, dan ruangannya berAC. Klo di kamar koas WS, panasss, mana koas bejibun. Lain di LB, lumayan ada ACnya. Di LB, koas ditaro di poli, coz tidak ada kamar koasnya T_T

Minggu I, jaga banyak. Klo di WS, jaga 5, di LB jaga 4. Terima nasib aja ;p. Untuk yg stase di LB, hari Rabu bersiap2 untuk ikut visitenya dr. Misnah, Sp.S(K), sebelumnya wajib belajar!!!! Atau kamu bakal dipermalukan..hehe. WS dan LB, seperti biasa datang jam 08.00, absen dulu di kamar residen, trus follow up sesuai kamar yg dibagikan. Melapor ke pembimbing referat. Klo bisa, selesaikan bab awal..

Minggu II, hampir sama, cuma tukaran, yg WS ke LB, LB ke WS. Melapor juga ke pembimbing case.

Minggu III, yg beruntung bakal dapat ke RS luar negeri, Pelamonia atau Ibnu Sina. Sisanya ya WS atau LB. Referat baca di hari Rabu.

Minggu IV, selesaikan semua status dan case. Hari Kamis, maju ke dr. Yunus untuk diundi. Semoga beruntung..

Valentine dan Palestine

Coba besok, kamu tanya orang-orang, tanggal 14 Februari itu hari apa?
Ya hari Kamis! Hehe, bukan itu maksudnya, 14 Februari is Valentine Days. Hari dimana [katanya] hari kasih sayang.

Tapi coba tanya lagi, valentine dan palestine, mana yg jadi prioritas?
Mungkin kamu yang peduli, cuma bisa menghela napas.
Kita telah terinfeksi!

Online [At Least] ;p

Hoho akhirnya bisa online juga, akhirnya bisa coba WiFi gratisan..hehe
It's mean bisa online sepuasanya tanpa takut kantong jeboll yuhuuuu

Mau tulis apa yaaaa? Tadi dah ketemu Rambo for the last time (yeah.. i really hope so. T_T).
Gilaaaaa,,, dibilang tolol. T.O.L.O.L
Dia tanya tinea kruris, dengan pedenya ta' jawab di kaki! Hehe jawaban asal sih, coz' lagi palpitasi hebat. Yang kepikiran malah tinea pedis

Yah, setidaknya satu per satu supervisor buas sudah dilewati.
Still waiting. Wish me luck ;)

Ayat-Ayat Cinta

Jujur, jika kau bertanya padaku, pernahkah membaca novel fenomenal "Ayat-ayat Cinta" karya Habiburrahman el Shirazy, maka jawabanku : belum. Juga novel-novel lain yang (katanya) novel spritual Islami. Mungkin kamu bilang, saya ini tidak up-to-date, a-little-bit-katrok, dsb, that's OK folks!

Tapi pemfilman novel ini, begitu membuatku penasaran. Seperti apa? Sebuah novel yang begitu mengagungkan cinta (tentunya secara Islami -menurut penulisnya-), dibuat film oleh sebuah perusahaan kapitalistik (yang tentu saya, anda, dan kita semua tahu tujuan terbesar mereka).

Akan dibawa seperti apa "cinta rasa Islam" ini?

Hanung Bramantyo -sang sutradara-, dalam blognya, jujur mengakui peran produser begitu besar, hingga produsernya pernah berkeinginan untuk membuat film ini menjadi film pop dengan label Islami.

The Bakso



Dari dulu, pengen bikin review tentang wisata kuliner di Makassar. Tapi karena (sok) sibuk, akhirnya baru bisa nulis sekarang ;p

Oke pemirsa (don't ever imagine Pak Bondan ;p), kali ini kita akan mereview tentang bakso murah meriah tapi enaak. Maklum pemirsa, kantong mahasiswa, jadi harus banyak ngirit (tapi tetap mau makan enak!). Kategori bakso yang kita akan review adalah murah, enak, dan lokasi terjangkau.

Dalam urutan pertama, ada Bakso Jutarasa. Berlokasi di Jl AP Pettarani, depan kantor Telkom. Sudah pasti enak, apalagi kuahnya.. yummy. Harga? Bersahabat! Cukup 6000 perak, anda dapat menikmati semangkuk bakso. Klo pengen ke sini, harus siap2 antri! Banyak pelanggan sih.

Yang kedua, ada Bakso Sabili. Tempatnya di Pintu II Kampus Unhas. Lumayan, harga mahasiswa. 6000 perak, dapat semangkuk.

Bakso MJ (Mas Joko) juga patut direkomendasikan. Sayang, harganya sudah naik drastis. Dulu waktu masih pake seragam putih biru, harganya masih 4000 perak, sekarang sudah gak pake seragam lagi, naik jadi 7000 perak. (Eits, tidak berarti klo kamu datang makan pke seragam putih biru, harganya jadi 4000 perak hoho ;p). Tempatnya di samping SMA 5 (lumayan, banyak anak2 SMA.. hehe jgn salah paham dulu, maksudnya bisa dianggap seumuran gituu ;p).

Bakso Minggu cabang SMA Kartika juga lumayan. Harganya klo gak salah 6000 perak. Lokasinya banyak, ada di belakang kantor Telkomsel Pettarani, ada di samping UIM, ada juga di SMA Kartika. Ya iyalah.. namanya juga cabang SMA Kartika

Dekat dari Bakso Minggu, ada Bakso Yosda. Sayang, 6000 perak cuma dapat 5 biji bakso.

Klo punya duti lebih, boleh coba Bakso Malang Cak Man. 10ribuan kayaknya dapat deh. Dapat kuah saja maksudnya...hehe. Ato masih mau menghambur-hamburkan duit, di Bakso Tembak saja. Minimal 20ribu kayaknya.

Masih mau yang mahal? Hmm.. saya gak tau lagi. Soalnya saya jarang makan di resto high class. Maklum, mahasiswa kere(n).

The End

Alhamdulillah, 9 minggu sudah stase di bagian Anak. Capek, lelah, bosan, dan menyenangkan (setidaknya adalah..) menjadi rutinitas 9 minggu. Banyak cerita dan pengalaman yang tak terlupakan. Mulai dari menyaksikan kematian pertama (damn, i was so shocked!), pasien yang pulang paksa trus meninggal (so tragically...), sampai bayi kembar laki-laki & perempuan prematur dengan berat lahir 570 gr & 740 gr yang membuat menangis.

Serius! Yang saya ingat, terakhir saya menangis bertahun-tahun lampau..hehe

But this two babies was different. Bayi kembar prematur laki-laki & perempuan seperti suatu anugrah terindah yang pernah saya lihat. Tetapi umur mereka hanya beberapa jam. Saat baru lahir, ibunya kelihatan sangat gembira (ini kehamilan keduanya, setelah KJDR pada kehamilan pertamanya). Keluarganya bertanya "Dok, anaknya baik-baik saja?". Ya Allah, sungguh saya tak tahu harus menjawab apa. Prognosis bayi prematur dengan berat lahir rendah seperti ini, bukanlah sesuatu yang bagus. Saya cuma hanya bisa tersenyum lirih tak berkata apa-apa.

Saya masih ingat, hari itu hari Jum'at jam 11 pagi. Melihat kedua bayi itu, tiba-tiba saja mata terasa memerah. Damn! I'm crying. I'm crying for something that i'm afraid that i can't tell you. Untuk sebuah alasan yang sebenarnya bisa dihindari. Tapi tetap, kehidupan & kematian hanya merupakan kuasa Allah. Manusia cuma bisa berusaha,.. Bayi perempuan (570 gr) hanya bisa bertahan sampai jam 4 sore, sementara sang kakak, bayi laki-laki bertahan sampai malam.

(The Fray : How to Save a Life)

Empat Pekan

Cape.Cape
Cape.Cape
Cape.Cape
Cape.Cape

*ungkapan tak bermakna setelah empat pekan di bagian Anak.

koma dan akhirnya titik

Untuk sebuah tanda tanya besar, blog ini tidak TERKAIT dengan organisasi apapun itu.
Blog ini hanya sebuah PELEPASAN dari sebuah ego yang tak terbendung.
Hanya itu.

Jadi biarkan blog ini tetap berbicara.
Titik.

Orang Miskin Dilarang Hidup di Endonesya

Kenapa? Protes??
Protes sama pemerintah, gih!
Jangan sama saya, kan saya cuma nulis judul ;p

Ke depannya, mungkin Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah orang miskin tersedikit di dunia. Yang ada -dan boleh hidup- hanyalah orang mampu dan kaya. Selain itu, no.
Lihat saja faktanya, orang miskin kini dilarang hidup di Indonesia.
Oke, kita perhalus saja bahasanya, orang miskin sebaiknya, jangan hidup di Indonesia.

Setelah negara Endonesya ini merancang sebuah undang-undang BHP (tau kan BHP itu apa..), yang mewajibkan seluruh institusi pendidikan di Endonesya, mulai dari TK sampai PT harus berbentuk badan hukum. Pemerintah telah melalaikan kewajibannya untuk mengurusi pendidikan, dengan dalih bahwa lembaga pendidikan harus bisa bersaing secara global dengan cara mandiri, termasuk pendanannnya. Akhirnya, sekolah jadi mahal. Hanya yang berduit, yang bisa sekolah. Yang gak berduit, yaa mimpi aja deh. Walaupun, dengan bahasa halus beasiswa, tetap saja orang miskin jadi minoritas di sekolah. Boro-boro bayar sekolah, makan aja susah.

Fakta yang paling dekat, di sekolah dokter XXX, ada JNS (Jalur Non Subsidi), ada pula jalur Kelas Internasional. Bayarannya, mulai dari 100 juta sampai 150 juta. Istilahnya, banyak jalan menuju "dokter". Ckckc, itu baru PTN, belom lagi PTS yang bayarannya, bisa dua kali lipat.

Gak ada tuh jalur khusus orang miskin. Semuanya jalur orang mampu dan kaya. Sekarang sekolah ini lebih terasa seperti arena pameran kekayaan. Ke kampus pake baju harga sebulan gaji buruh kecil, hape model terbaru, tenteng laptop supermahal, belum lagi tempat parkir yang sekarang jadi kayak tempat pameran mobil-mobil keluaran anyar. Saya, yang tiap hari ganti mobil, gak pernah sesombong ini tuh. Kan, angkotnya tiap hari berubah.. ;p

Setelah orang miskin dilarang sekolah, kini orang miskin dilarang sakit. Di RS rujukan di daerah ini, kini tidak menerima lagi pasien JPS/Askeskin atau semacamnya. Mereka hanya ditanggung biaya perawatannya, itupun di kelas III yang berdesak-desakan. Biaya operasi, pemeriksaan lab, obat, harus ditanggung sendiri. Masya Allah, apa pemerintah sudah tidak punya nurani?? Itupun kalo mereka punya hati,..

Akibatnya, banyak orang miskin yang sakit terpaksa pulang paksa karena tidak mampu membiayai pengobatannya. Seorang koass senior pernah mendapatkan pasien di salah satu departemen besar di RS yang terpaksa pulang paksa karena tidak mampu membeli obat paten yang harganya jutaan rupiah yang diresepkan oleh dokternya, sementara dia hanya punya uang dua ribu rupiah saja.. Belum lagi (oknum) dokternya (yang kapitalistik) kekeuh tidak mau mengganti dengan antibiotik yang lebih murah..(denger2 terikat kontrak dengan perusahaan farmasi..)
Astaghfirullah..

Sekarang, pemerintah berencana menerapkan rancangan peraturan daerah yang mendenda orang yang memberi sumbangan pada para pengemis. Apaan lagi nih? Tujuannya, supaya kota-kota yang menerapkan peraturan tsb, bisa bebas dari pengemis dan tunawisma. Alih-alih mensejahterakan rakyat, malah membuat hidup mereka makin berat. Mau berinfak, malah didenda sampai puluhan juta! Ampuunnnn, orang miskin kini benar-benar dilarang hidup di Endonesya.

Ya sudah, kita bubar saja jadi negara. Negara gak becus!

Ramadhan Euphoria


Insya Allah, besok 13 September 2007, tepat 1 Ramadhan 1428 H, umat Islam sedunia serempak (alhamdulillah) akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Perbedaan penentuan awal Ramadhan tahun ini (alhamdulillah) tidak terjadi, baik yang menggunakan metode rukyat ataupun hisab. Kali in, saya tidak akan membahas kedua metode tersebut.

Hal yang patut dicermati pada awal Ramadhan, baik tahun-tahun kemarin ataupun tahun ini, ada yang tidak berubah. Euphoria Ramadhan. Dimana-mana, semua serasa Islami. Ada yang ikhlas, ada yang dipaksakan.

TV-TV pun tak kalah gencarnya. Tiba-tiba sekarang acara televisi, utamanya sinetron, para pemerannya berhiaskan penutup aurat (ala kadarnya?), ucapan-ucapan bijak, salam, dll yang selama sebelum Ramadhan jarang sekali kita dapatkan. Ada apa ini?

Fenomena "bunglon" seperti ini selalu berulang tahun ke tahun. Saat Ramadhan, semuanya tiba-tiba menjadi shaleh, setelah Ramadhan, ehh balik lagi.

Yang lebih parah, simbolisasi Islam melalui acara-acara TV seperti sinetron ini, alih-alih mencitrakan Islam yang baik, malah membuat citra Islam yang dikompromikan. Kalau sudah menutup aurat (ala kadarnya?), shalatnya rajin, ucapannya bijak, maka bolehlah juga bergaul bebas. Apa bedanya dengan sinetron-sinetron pra Ramadhan? Ya, cuma beda di cover. Selebihnya, non sense.

Finally..

Hari ini Jumat, 31 Agustus 2007, dengan resmi nama belakang bertambah ;)
Yakkk! S.Ked ^^'
*narsis-mode on*

Tidak Tidur

03.33 Subuh

Huahh, hari ini tidak ada tidur bagiku. Tidur siang, lebih lagi tidur malam.
With eyes wide open!
Kepala berat, mata berat, sepertinya ada beribu2 batu yang siap menghujam kepalaku.
Mulai dari pagi di rumah, siangnya ke century, ngenet, sorenya ke tamalanrea, malamnya ke MTC temani mace beli HP (damn! cuma menemani, tidak dibelikan T_T), lebih malam lagi balik ke century, tengah malam makan nasi kuning begadang di maccini, abis itu ngenet lagi. Penderitaan.. mana besok harus ke kampus pagi2 (OIY, buat maba kedok 2007 datang yaa! (awas) klo tidak hoho)

Bahan bacaan :

>> What? Sel otak ku tidak mengalami regenerasi? Pantas, tulisannya kacau begini..

Efek Tidur Siang (penting!) :
  • Tidur siang sedikitnya tiga kali seminggu selama 30 menit bisa mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung. (Jurnal The Archives of Internal Medicine)
  • Kalau bisa, Anda harus tidur siang setiap hari (Dimitrios Trichopoulos, Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat)



Jangan Tanya Judulnya Apa

Kemarin, hari ini, dan esok rasa-rasanya ada yang tidak berubah. Semuanya masih dalam kondisi yang sama. Entah kapan, perubahan itu terjadi. Dan saya (masih berharap) yakin sesuatu itu akan berubah. Ataukah pengharapan saya yang perlu dirubah?

Kemarin, hari ini, dan esok rasa-rasanya ada yang berubah. Semua terlihat berbeda sekarang. Entah kapan, perubahan itu terjadi. Toh, waktu bukan menjadi sebuah titik ukur kemana perubahan itu mengarah, melainkan seberapa lama perubahan itu menjadi-jadi. Saya (masih berharap) harapan itu tetap tumbuh, mengganas dan menjangkiti orang lain bagaikan HIV menjangkiti sel-sel imunitas manusia. Menjalar, dan semakin menjadi-jadi. Membuat orang lain dalam kondisi yang sama, dalam sebuah manifesto pemikiran yang seragam. Ya, membangunkan singa tidur!

Kemarin saya masih ada
Hari ini (alhamdulillah) saya masih ada
Esok (semoga) saya masih ada.
Menyaksikan perubahn besar itu terjadi. Dan menjadi orang-orang yang termasuk di dalamnya. Toh, hidup cuma ada dua pilihan : Pahlawan atau Pecundang. Pilih mana?

-di tengah renungan tak berarah tentang sebuah pragmatisme-