Saat ini saya sedang mencoba emoticon yang baru terinstall.
Sedang hangat-hangatnya kasus penculikan ABG usia sekolah SMP lewat media jejaring sosial terbesar, Facebook, membuat beberapa orang bereaksi keras. Ada yang melarang siswa sekolah menggunakan Facebook, hingga fatwa haram Facebook.
Facebook, situs jejaring sosial, yang pada awalnya dikembangkan hanya untuk jaringan mahasiswa Harvard University oleh Mark Zuckerberg, kini telah menjadi media yang mendunia, sampai di Indonesia yang malah bebas diakses oleh siswa-siswa usia sekolah SMP.
Saya mulai memiliki akun di Facebook sekitar tahun 2006, jauh sebelum sebooming saat ini. Saat itu, masih sedikit yang mengetahui Facebook. Saya pun jarang membuka situs itu, karena saat itu situs jejaring sosial lainnya semacam Friendster dan MySpace masih menjadi raja. Facebook dahulu tidak seaktraktif sekarang. Yang saya ingat, saya masih sering mendapatkan kiriman-kiriman bunga yang harus dirawat di wall sendiri.
Hingga, lambat laun situs ini mulai mengglobal. Awalnya, pengguna Facebook didominasi oleh orang-orang usia kuliahan hingga kelas pekerja. Situs yang sangat digandrungi karena bisa menemukan teman-teman lama semasa SD hingga SMA. Dan yang paling saya sukai, saat itu belum ada nama-nama aneh seperti Chyin Celahu Cendhiri, Aan Sukaa Eskrim, dan nama-nama yang saya pikir, orangtua mereka pasti shock ketika tahu anaknya mengganti nama sendiri tanpa proses aqiqahan lagi.
Lalu, "bencana" itu dimulai. Konten-konten semakin ramai. Pengguna Facebook mulai bergeser dari jejaring sosial yang saling mengenal di dunia nyata, berubah menjadi jejaring yang menjebak orang-orang yang tak sekalipun bertemu di dunia nyata. Melainkan, begitu akrabnya di dunia maya. Game-game online, semcamam Mafia Wars, Zynga Poker, FarmVille, CafeWorld mulai menjamur.
Kemudian, muncul gaya baru. Gaya foto profil yang bukan foto sebenarnya, nama yang bukan nama sebenarnya, hingga foto sebenarnya yang dibuat segaya mungkin. Gaya standar yang begitu khas : foto kamera ponsel dengan sudut sekitar 30 derajat di atas kepala. Atau gaya mengatupkan telunjuk depan mulut, seakan-akan menyuruh pengunjung profilnya untuk diam, -mungkin karena pengunjung seperti saya, serasa mau muntah melihat wall seperti itu-
Kebanyakan dari mereka yang bergaya seperti itu adalah ABG labil, atau orang-orang labil. Banyak yang menyebutnya alay.
Lalu, muncullah bencana penculikan anak-anak SMP lewat perkenalan di media ini. Kemudian, orang ramai-ramai menyalahkan Facebook. Kenapa? Pikir mereka, Facebook lah yang menjadi sumber bencana. Situs yang tidak hanya menjadi jejaring sosial, tetapi juga menjadi jejaring penyamun menjaring mangsanya, -ABG labil-
Coba tanya, remaja jaman sekarang. Siapa yang tidak punya akun Facebook. Saking melek teknologinya, sampai-sampai saya tidak bisa menahan tawa saat ada yang berceletuk : facebook sama email itu beda. Haa! Kalau yang bilang begini itu anak-anak SMP, saya masih mafhum. Tapi kalau yang bilang itu mahasiswi tipe pesolek, saya mulai meragukan integritasnya.
Ada juga kebiasaan aneh, yang saya rasa hanya ada di pengguna Facebook di Indonesia. Asal confirm request teman, asal request orang, asal confirm group request, asal caplok teman sebagai siblings -hingga puluhan siblings. kasihan ibunya, melahirkan begitu banyak anak-. Gelagat apa ini? Gelagat banci tampil? Pantaslah, ketika sebuah iklan menyebut : Mau eksis? Jangan lebay, please. Tagline yang begitu cocok untuk orang-orang seperti itu.
Lalu intinya, filter diri sendiri. Jangan asal confirm, jangan asal request. Kita punya dunia nyata untuk bersosialisasi, bukan begitu getolnya di dunia maya.
Dan satu hal lagi; kids, don't talk to strangers. That's what my mom said to me when i was a teenager. Ababil, yeah ABG labil!
Blog ini resmi saya ganti namanya.
Selamat datang di empoweringmind.blogspot.com
Mudah-mudahan berguna :)
I'm a fresh graduate. I'm a big jobless. I'm a chooser. I have an MD in front of my name. But i don't have a JOB. It doesn't because of i can't have it. I'm just taking it too seriously. Isn't it pathetic?
Dan kemudian, tawaran mulai berdatangan. Di sana, di situ, dimana-mana. Tapi tunggu, tidak satupun saya kenal daerahnya. Tercantumkah di Google Maps?
Bagaimanapun, saya tidak boleh berdiam diri. Bukankah saya telah berjanji, di saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku fakultas sejuta umat, dimana mereka membayar berjuta-juta untuk sekedar mendapatkan nomor induk mahasiswa, sementara saya harus memeras otak berjuta-juta kali untuk bisa masuk. Bahwa saya -dan mahasiswa baru lainnya- telah digembleng untuk tidak egois. Masih adakah yang mengingat lagu itu kawan?
Kalau ku besar nanti ku ingin menjadi dokter.
Semua kulayani dengan sabar.
Tiada kubedakan antara miskin dan kaya.
Semua kulayani dengan sabar.
Di desa dan di kota, bagiku sama saja.
Walaupun di tengah malam, tugas kan tetap kujalankan.
Masih adakah yang ingat kawan? Masihkah lagu "sakral" itu terngiang-ngiang di telingamu kawan? Lalu kemana engkau melangkahkan kakimu?
considering my self as a old-school type, i was a little bit shock when i found this -yep, it has to be a massive trending topic- on internet. oh yes, thank kaskus for the freedom of speech.
alay. sebuah diksi yang lagi tren di antara anak muda. alay, -singkatan dari anak layangan-, menjadi suatu mark bagi mereka -terutama anak muda- yang mungkin (maaf) berasal dari golongan ekonomi margin menengah ke bawah, yang berusaha untuk tetap tampil. kemudian ada yang tampil menjadi penonton di tayangan musik live di TV, eksis, istilah anak muda jaman sekarang.
alay. para anti alay mendeskripsikan bermacam jenis tampilan luarnya. ada yang mengatakan kaum alay itu berpenampilan murahan, dengan kaos norak warni-warni bergambar, atau berteks menyerupai kaos-kaos mahal di outlet surf-boutiqeu. ada juga yang mendeskripsikan alay dari kelakuan-kelakuan sehari-hari, yang misalnya menulis dengan gaya 53pe3rti 1ni, atau spertihh inihh, atau yang lebih membingungkan lagi seperti ilmu menulis gaya baru buatan Ophi A Bubu (yep, she's one of Facebook from nothing to celebrity).
mInTALa………..
mKA QmO aKAn D bERi………
kEtUkLA……….
MKa PnTu AKan d BkAkAn uNtk mO……..
CrE LA………..
mKa QmO aKAn MDaPatKHAn………
ya, gaya menulis seperti itu yang Ophi buat. yang mungkin makin memperkaya khasanah ilmu menulis orang-orang Indonesia.
alay. lalu ada yang mencap alay karena selera musik yang sebenarnya malah mayoritas mungkin. kangen, pee wee gaskin, armada, ST12, dan band-band lainnya. mungkin kita bisa mengkategorikan jenis musiknya menjadi jenis musik metal (melayu total) yang mulai digalakkan oleh ST12, dan jenis musik indie-pop-punk seperti pee wee gaskin.
oke, cukup dengan definisi. mari kita review satu per satu.
clothing. hey, bukankah hak tiap orang untuk memakai baju yang dia suka? lalu kenapa dengan pandangan anti alay? secara pribadi, pertama kali saya juga mentertawakan gaya berpakaian mereka. norak berwarna-warni dengan kelakuan yang ingin dinilai keren. tapi lama kelamaan, saya berpikir. apakah itu mengganggu saya? kelakuannya, mungkin iya. tapi clothingnya? mungkin cuma buat saya pusing dengan kaos yang full color itu.
tulisan. nah yang ini saya anggap hebat! untuk menulis biasa saja seperti ini, sudah susah menurut saya -tulisan saya dinominasikan sebagai tulisan tangan terburuk tahun ini-, apalagi ditambah harus merubah tulisan tangan biasa menjadi tulisan tangan berkode. mungkin mereka harusnya disekolahkan ke sekolah militer dengan pendidikan untuk menjadi agen rahasia karena tulisan tangan berkodenya yang sulit untuk dibaca, apalagi dimengerti. buat saya, cukup memperbaiki tulisan tangan dulu, agar saya tidak dicap sebagai guru tulisan sandi rumput.
musik. label rekaman mayor di Indonesia tidak ada yang mau rugi. selalu berpikiran mencari keuntungan sebesar-besarnya. maka tidak heran, dengan akar budaya kita yang sedikit melayu mellow, band-band melayu (yang menurut saya beberapa diantaranya dipaksakan) menjadi laris manis. nah, jika band-band seperti itu dicap alay, maka otomatis mayoritas orang Indonesia itu alay juga? karena band-band itu yang sedang naik daun dan disukai bukan? tapi, cukuplah bagi saya alunan James Morrison, Jason Mraz, Mat Kearney, Lifehouse, Five for Fighting dan sejenisnya yang menjaga gendang telinga bersih dari kontaminasi musik-musik komersil-dipaksakan dari band-band itu. atau mungkin band-band yang menganggap -dan ingin dianggap- keren oleh sekumpulan anak muda yang dalam proses pendewasaannya. aha!
jadi kalau kamu ingin jadi alay, maka j4dil4h alay! jangan jadi alay setengah-setengah. tidak ada margin bahwa kalau kamu suka ST12, kamu itu tidak keren, kampungan, dll. it's your ear to hear any songs you like most, it's your body to wear any shirts you like, it's your hand to write any style define you most, and it's you to expressing-out : hey this-is-me people wheter you like it or not.
-tapi tolong, bertanggung jawablah. dan jangan seret saya ke dalam budaya itu hahaha-
PS : pardon me, for my bad english. i've try my best :D
Demi Allah, saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbang an keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
Dalam batas waktu yang tidak ditentukan, pikiran saya kini beralih ke Tumblr.
cekidot, empoweringmind.tumblr.com
*mari beralih ramai-ramai ke Tumblr*
Ny. X, 19 tahun, didorong ke VK dari UGD dengan diagnosa eklampsia. G1P1A0, gravidnya saya lupa sudah berapa minggu. Pasien ini rujukan dari rumah sakit kabupaten di dareah selatan. Sampai di VK, pasien ini dalam keadaan kesadaran berkabut. Menurut keluarga, sudah ada 2 kali pasien kejang dalam perjalanan rujukannya. Di VK, pasiennya kejang lagi. Setelah ambil darah vena untuk pemeriksaan lab, dan persiapan transfusi, pasiennya kejang lagi. MgSo4 10 cc diinjeksikan intravena, pelan-pelan.
Lidah pasien mulai tergigit. Residen dan koas mulai kasak-kusuk cari spatel. Ternyata gak ada. Yang ada cuma sendok. Ya sudah, dimasukkan saja. Saya kemudian bertanya sama bu Bidan, “Bu, ada gudel nda?”. “Yang mana itu dok?”, jawabnya. Saya lalu menyebut pipa orofaring, bu bidan malah makin gak ngerti.
OMG, gudel tidak tau?
Lemari karatan penuh barang-barang karatan, mulai saya bongkar. Bingo! Dapat spatel. Tapi, sudah berkarat.
OMG lagi. Spatel berkarat?
Ya sudah, dibersihkan sedikit, dilapisi gaas. Lalu dimasukkan ke mulut pasien untuk mengganjal lidah dan gigi.
Bisa kamu bayangkan? VK di salah satu rumah sakit rujukan, tidak memiliki gudel? Punya spatel berkarat?
Tiba-tiba, pasien mulai apnea. Oksigen kanul serasa gak ada guna. Residen mulai minta oksigen mask. Bu bidan bilang; gak ada dok.
Saya ke belakang lagi, bongkar lemari lagi. Voila! Ada oksigen mask (tapi buat bayi), ada juga bag valve mask (yang sayangnya gak punya connector). Apa boleh buat. Selang kanul saya gunting, lalu “dipaksa” nyambung ke oksigen mask.
Karena spatel sudah dimasukkan ke rongga mulut, rasanya jadi susah untuk masking pasien. Oksigen dari tabung oksigen super berat itu, lebih banyak yang keluar. Dari tadi tidak dapat gudel, akhirnya saya lari ke ruang high care unit Interna. Dapat! Ada gudel, ternyata. Dari ruang high intensive care di lantai 3, lari-larian ke lantai dasar.
OMG. Rumah sakit sebesar ini serasa kayak rumah sakit asal jadi.
Cito SC, begitu keputusannya. Setelah pasien mulai sedikit terkendali, mulailah lagi kesibukan baru. Kasak kusuk cari oksigen transport buat dorong pasien ke OK Cito. Tebak apa? Ya, di VK tidak ada oksigen transport.
OMG kedua. Tidak punya oksigen transport?
Bitjil-bitjil, yang rasanya –sorry to say- seperti cuma nonton maut menyongsong, gak bisa diandalkan buat cari oksigen transport. Yaaa lari lagi ke bangsal bedah dekat VK buat pinjam oksigen transport.
Pasien mulai stabil, mulailah dilarikan ke OK cito. Anestesi menjawab, pasien tidak optimal untuk op. Observasi kejang, sarannya.
Selanjutnya, jam pulang koas.
Keesokan pagi, ternyata si ibu sudah di SC, -sedihnya- bayinya meninggal. Pasien masuk ICU.
2 hari setelahnya, dapat tugas jaga di ICU. O, si ibu sudah meninggal rupanya. Desas-desus kabar angin dari koas lain, meninggal karena ventilatornya tidak berfungsi gara-gara ada pemadaman… Semoga ini cuma kabar angin!
Masalah terakhir, si ibu tidak punya status yang jelas. Pasien umum kah, ASKES kah, Jamkesmas kah, Jamkesda kah. Si ibu tidak punya identitas apapun (including KTP dan KK untuk urus status Jamkesda). Walhasil, staf ICU jadi kelimpungan mencari alamat keluarga, karena mau tak mau, ada biaya yang harus dibayarkan. Biaya OK, biaya ICU, biaya lab, dan sejuta biaya lainnya.
Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana kalau itu ibumu? Istrimu? Kakakmu? Keluargamu?
*sekilas tentang dunia rumah sakit dan sistem jaminan kesehatan kita
Kemarin, akhirnya bisa juga nonton film yang satu ini. Tidak diniatkan memang, cuma penasaran dengan bombastisnya promosi film ini. (Sampe ada audisi pemeran utama yang ditayangkan di tv,… ckckck). Niatnya mo nonton di MTos (bokek-mode-on), tapi setelah sampai disana, astaganaga tiket sudah habis untuk show sampai jam 21.00. Wadoh, banyak penontonnya,..
Akhirnya pilihan jatuh ke Makassar Theatre (bioskop jadul dengan tiket seperti karcis masuk terminal :D). Disini, dibuka dua theatre sekaligus. Setelah beli tiket (karcis, exactly), telat masuk nonton, eh sudah disuguhi dengan adegan sinetron-looks-alike (close-up dan ngomong gak ada jeda…). Wadoh,.. jatuh harga
Seterusnya, alir cerita mulai mengalir, tapi tetap saja seperti sinetron. Adegan banyakan close-up, ngomong tidak ada jeda (malah kelihatan seperti adu hapal dialog ^^), iklan dimana-mana, sampai deskripsi yang BERLEBIHAN.
Hal yag terakhir itu paling tidak saya suka. Haruskah aktor/aktris sampai menjelaskan detail berlebihan tentang jalan cerita film lewat dialog?? Aktor/aktris yang (mungkin) baru pertama berakting di film, yaa bisa dimaklumi lah.
.
Dan akhir film yang “.. to be continued..”. Hahahahaha, that’s sooo drama soap.
Novel aslinya, klo boleh jujur, juga agak berlebihan (sekali lagi menurut sayaaa). Saya masih lebih menyukai kesederhanaan Tere-Liye lewat Hapalan Shalat Delisa. Too much details. Dan jujur, I didin’t get the message. Konsep cinta dalam Islam? Poligami?
Seterusnya? Saya sibuk main game di henpon, sesekali ngintip FB. Ketika Cinta Bersambung eh Bertasbih sudah selesai, saya orang pertama di pintu exit. Haaaa!
Yang saya ingat waktu kecil dulu, setiap kali ada teman yang bertanya, -mau jadi apa-, saya kehabisan jawaban. Teman-teman sudah mendoktrin cita-cita mereka dalam selembar kertas binder -yaaaaaik, that's soooo 90's -, dengan profesi-profesi standar anak SD. Dokter (rata-rata tulis dokter anak, mungkin karena mereka anak-anak yaa..
), polisi, ABRI, insinyur (gak jelassss...), sampe ke jawaban paling jayus : berguna bagi bangsa dan negara.
Sementara saya, tidak ada jawaban pasti. Kadang saya tulis insinyur (saya pernah bercita-cita kuliah di ITB je gara-gara pak Habibie,,, kekekeke ), malah pernah saya meyakinkan diri kalo saya akan menjadi wartawan. Yep. W-A-R-T-A-W-A-N. Tau gak kenapa? Karena tidak ada teman yang menulis mau jadi wartawan. Hahaahaha, secara masih anak SD, show-off itu penting boo!
Yang jelas, tidak pernah saya tulis cita-cita mau jadi DOKTER. Saya takut disuntik (yeik, klise), saya takut jarum, saya takut dengan dokter yang korek-korek kuping (bener! di SD dulu, ada dokter yang rutin datang pemkes, lengkap dengan korek kupingnya )
Lalu, 16 tahun kemudian, terseret juga sekolah di kedokteran. Kebetulan lulus, -meminjam istilahnya k'Ilo-. Sampai di masa-masa menuju tambahan nama (insya Allah, doakan yaa), saya sendiri masih belum mengerti, kenapa saya sekolah di bidang ini? Merasa belum pantas menjadi dokter (there's a lot f things i don't know..), merasa ilmu tidak ada apa-apanya, merasa masih cupu, ahhhhh..
Saya tidak tau akan kemana setelah ini. Sekolahkah? PTT kah? Atau malah tidak berkecimpung di dunia persilatan? Saya iri, membaca blog koas-koas lain di uni luar. Betapa cerdasnya mereka. Betapa terorganisirnya rancangan hidup mereka. Sementara saya? Tiba masa tiba akal.
Saya bukan top ten otak-otak jenius di neocortex. Saya bukan berasal dari keluarga dokter. So, it's kinda hard for me.
Sampai bapak pernah bertanya saat selesai membaca buku "Mengobati dengan Hati : Kisah dokter PTT", siapkah kamu dengan hidup seperti itu? Padahal saya masih berimajinasi, kelak bertugas di pulau, rumah dekat pantai, tp pertanyaan itu segera memupus semuanya. Apa iya saya siap?
Sepertinya belum.
Alhamdulillah, rasa nyeri di kaki hilang juga. Setelah 3 hari menderita sampe meraung-raung (berlebaihan-mode-on
), setelah 3 hari diobati sana-sini
.
Awal gejalanya sudah terasa sejak sebulan yang lalu. Dimulai dengan telapak kaki yg terasa nyeri, tapi saya pikir gara-gara sepatu baru (hehe, sengaja dibold biar pada tau sepatu baruuu ) yang sayangnya tidak ergonomis. Rasa nyerinya masih bisa ditahan, mulai jalan sedikit pincang (tidak ngesot as you wish!
) dan hilang timbul. Life goes on, sebulan di mata, sampe mau pindah ke anestesi.
Sabtu malam
Rencananya mau tidur cepat karena besok pagi-pagi adaptasi di anestesi. Bla-bla, tadaaaaaa...
Terbangun. Waduh, kakiku cenut-cenut, seperti ada yang menggigit. Mulai gelisah, panggil mama (wadoh, ketahuan anak mama ) untuk pijat kaki. Tambah nyeri. Mulai berteriak-teriak kesakitan. Mace langsung wes ewes oles minyak sinyong-nyong. Setengah lima subuh masih terasa nyerinya.
Minggu pagi
Mulai jalan ngesot (as you wish) , berencana membatalkan diri masuk anestesi karena tidak tahan nyeri. Tapi mulai agak reda. Mandi, minta diantar ke RSWS. Akhirnya gubernurnya bisa kasih ijin mundur dulu. Pulang ke rumah.
Minggu siang
Mulai nyeri lagi, mulai meraung-raung kesakitan, nyerinya berpindah ke telapak kaki. Sakiiiiit seperti telapak kaki digigit-gigit. Tapi tidak ada tanda peradangan. . Mace mulai panggil orang pintar (padahal sa juga pintar ji gang
). Dibilang ada hubungan dengan tidak ingat pahala nenek apa gituuu (saya juga tidak ngerti
). Eh, pas setelah diusap-usap kakinya, nyeri mulai agak reda. Kenapa ya? Usapan efek anti nyeri?
Nenek yang datang juga mulai berceloteh ngomong klo sakit kakiku karena sudah injak "sesuatu" yang jahat-jahat. (Injak kodok, nek? Sering. Injak apa ya?) Dia bilang something called soke' in bugisnesse. Waduh, apa itu?
Mulai disuruh minum air apa gituu (mudah-mudahan bukan air bekas cuci kaki Ponari , atau bekas kumur-kumur mPo' Nori). Kaki diusap dengan ramuan bawang merah. Tapi mujarab loh, nyerinya mulai reda. Katanya ada yang kirim "guna-guna", trus saya yg injak.
Senin malam
Ke dokter ortopedi. Bla-bla, dibilang gak ada apa-apa. Mungkin peradangan lokal yang tidak jelas darimana. Nah lho?
Nyeri pada kaki, mulai dari malleolus, berpindah ke plantar. Tidak ada tanda peradangan. Tidak ada riwayat trauma. Medical mystery. Or we called it idiopathic.
Lalu, ada seorang "pintar" (or let say dukun) yang ngomong sakit karena bla-bla. Obatnya bla-bla. Kenapa saya harus percaya? Tidak kah ilmu kedokteran (yang sedikit rasional) masih bisa menjelaskan? Kemudian fakta berbicara. Dengan sedikit usapan, nyeri reda. Lalu, logika kedokteran yang sudah saya bangun, jadi runtuh.
Saya, berusaha untuk tidak percaya dengan segala hal yang datang dari sumber-sumber yang bisa mengarahkan ke syirik. Saya percaya dengan dunia gaib, karena sesungguhnya Allah itu pun gaib, bukan? Saya percaya bahwa segala penyakit itu datang dari Allah, sebagai ujian, cobaan, dan penghapus dosa manusia (ini pernah baca loh). Saya percaya bahwa segala kesembuhan itu datangnya hanya dari Allah, entah itu lewat seorang dokter atau orang lain, sepanjang pengobatan masih dalam koridor syariat-Nya. Dan semoga saya masih tetap istiqamah untuk percaya hanya kepada-Nya.
*Ampuni saya ya Allah, ampuni dosa-dosa saya.
Hari ini, ke Fakultas setelah "dipanggil" mendadak oleh Ibu ****, karena ada kesalahan yang perlu diluruskan. Setelah membela diri, (dan tentunya) disemprot sampai harus menghadap ke pembesar fakultas, akhirnya clear juga. Tobaaaat deh.
Tapi bukan itu, fokus ceritanya. Fokusnya adalah lift.
Saya yang kampungan, ataukah memang fakultas ini sudah punya anggaran berlebih untuk berbelanja lift. Ya, lift.
Mungkin, adanya lift di suatu gedung perkuliahan bukan hal yang baru, apalagi tabu. UGM dengan kampus kerennya, juga punya. Unhas? FK Unhas? Sebenarnya sudah lama ada, tapi rusak.
Hari ini, untuk pertama kalinya, saya tercengang melihat lift di kampus. Letaknya dekat tangga lab Anatomi. Saya bertanya pada Nuhi, sejak kapan ada? Sudah lama katanya. Ooo
Sejenak, saya membayangkan. Mahasiswa sekarang enak ya, naik-turun lantai tidak perlu lagi naik-turun tangga. Cukup, pencet tombol up-down, lalu tombol lantai tujuan. Wusss, langsung selamat sampai tujuan.
Saya tidak antipati pada perkembangan, apalagi memusuhi yang namanya lift. Lift itu penyelamat bagi mahasiswa yang nyaris telat datang CSL (seperti CSL Traumatologi dulu, saya nyaris terlambat datang, lalu harus tergopoh-gopoh loncat tangga (haha, istilahnya loncat karena bukan step-by-step lagi, tp loncat anak tangga ), lalu berlari ke ruang CSL. Akhirnya telat juga. Mahasiswa sekarang, ya cukup pakai lift.
Kami, para koass, mungkin masih familiar dengan penggunaan lift, terutama di RS Ibnu Sina. Lift yang "diharamkan" penggunaannya oleh koas. Koas, musti naik-turun tangga (4 lantai). Atau, mungkin lift di RS Pelamonia (ini sih gara-gara liftnya horor
). Atau, lift di UGD RSWS yang agak dihindari saat jam dinas (karena ada ruang 313..
) hehe. Jadi betis kami sudah terbiasa dengan tangga. Lalu, tiba-tiba dapat kemudahan seperti ini. Agak aneh saya rasa. Haha, mungkin saya yang udik ya.
Hikz, sekarang kantin tengahRSWS harga-harga makanan naiknya Naudzubillah. Yg biasanya duit 10ribu cukup bwat makan + minum, sekarang malah cuma kembali 4ribu untuk beli Teh Kotak.
Dan yang paling menyedihkan, kupon makan koas sudah tidak ada. Hikz, sedihnya..
Akhirnya sekarang kantin tengah sepiiii banget dari koas. Ya iyalah, secara harganya ndak kompromi.
Tapi tenang pemirsa, kantin tidak hanya kantin tengah. Masih ada yang lain. Asal mau jalan jauh, turun gengsi dikit, kita bisa makan enak dengan harga merakyat.
1. Palem
Lokasi : samping paviliun Palem.
Gak tau sejak kapan, warung-warung ini mulai berjamuran. Waktu di Interna, pertama kali beli makan di sini. Kesannya : nasi banyak, agak keras, lauk belepotan minyak. Setahun kemudian, stase Bedah. Kesannya : nasi (masih banyak), lunak, lauk (agak) belepotan. Variasi menu : Oke.
Harga : oke bangeeeet.
Overall : recommended.
Saran : Untuk koas-koas baru mungkin agak gengsi ke sini, secara letaknya di perifer, trus musti diliat2 orang se-paviliun Palem, ngantri bersama keluarga pasien, dll. Tapi apa kamu mau makan gengsi??? Gak kan, jadi santai saja. Anak2 taun kedua sudah terbiasa kok.
2. Ani
Lokasi : samping ruang residen Anak.
Nah disini rameeee banget dengan koas plus residen. Bedah, Anastesi, Anak, rata2 sarapannya di sini. Nasi Kuningnya cuma 6ribu. Plus bisa ngopi-ngopi. Gorengan banyak. Siap2 berdiri klo gak dapat kursi. Berhubung sekarang ruang residen Anak diperluas, siap2 klo nasi kuning kamu kecipratan debu, pasir atau semen.
2. Pesan Antar
Lokasi : Dewata, Sabili, Sederhana
Siapkan duit minimal 10 ribu, sudah dapat nasi goreng Dewata. Secara nasi gorengnya porsi kuli, jadi satu porsi yang harganya 20ribu, bisa dibagi dua. Ato yg mau mahalan dikit, bisa pesan nasi lalapan for 15ribu. Klo Sabili, musti cek dulu, dia bs ngantar gak. Agak aneh sih, pesan antarnya tergantung mood. Menu yg oke : lalapan, nasi uduk, nasi goreng. Semunya rata2 under 10ribu lah. Klo Sederhana, (ni RM Padang, secara namanya Sederhana, harganya bikin nangis dompet) bisa pesan nasi ayam. 12 ribu kayaknya.
3. Nebeng
Ini opsi paling enak. Klo ada teman diluar, bisa nitip.
4. Terpaksa ke kantin tengah.
Pilihan terakahir. Ato mungkin kamu lagi kaya-roaaaya.
Wahh, lama gak nulis,... Haha kesibukan membuat blog ini serasa tenggelam. Gara-gara stase bedah (padahal sebenarnya, lagi gak ada ide keke ;p).
Menjadi koas bedah, harus tahan banting. Harus bermental baja. Harus tahan tidak tidur. Harus siap sedia terima keluhan. Terima cacian. Terima teriakan. Terima saja. Asal jangan terima kasih.
Menjadi koas bedah, berarti 3 bulan hidupmu bakal terampas. Terampas tidur-tidur nyenyakmu di kamar nyamanmu. Terampas hidup bersama keluarga kecilmu. Terampas hari-hari liburmu yang terganti dengan jaga bangsal. Terampas kesempatanmu untuk menyenangkan diri. Bahkan mungkin saja terampas harga dirimu.
Lalu, apa yang menjadi penggantinya?
Pertanyaan klasik. Lagi-lagi berulang. Setelah Zule -yang semangat sekali memotivasi- berbicara tentang impiannya, bahwa kita -the GeneSIX- di masa depan akan menjadi orang-orang yang berada di puncak.
Sesaat saya berpikir, begitukah kita? Begitukah kapasitas kita? Jelas, saya tidak meragukan orang-orang yang ada di angkatan ini. Hanya satu orang yang saya ragukan. Itu, adalah saya sendiri.
Saya bilang berulang, karena pertanyaan ini pernah menjadi pertanyaan favorit -sekaligus menakutkan- bagi kami para siswa kelas 3 di penghujung keluarnya kami dari sekolah. Mau jadi apa? Mau kuliah apa? Mau kerja apa?
Dan kini lagi-lagi pertanyaan menohok itu datang menghantui. Di penghujung kelarnya kuliah, sesaat membuat saya -terutama- harus berpikir ulang. Mau jadi apa? Rasa-rasanya, saya tidak cukup kuat membangun pondasi mimpi untuk menjadi seseorang. Let it flow, mungkin begitu prinsipnya. Saya tidak sesemangat Andrea Hirata dengan mimpi-mimpi dalam Laskar Pelanginya, atau tidak seperti Zule dengan ambisi masa depannya, atau mungkin Nia dengan langkah besarnya menjadi Caleg.
Ya, Zule, mungkin kau berhasil menohok ku dengan pertanyaan itu. Sementara ini, jawabannya adalah tidak tahu. Atau malah, tidak-mau-tahu.
Pathetic, yeah.
